Proposal Keperawatan

Diposkan oleh Rudi Mole


BAB I
PENDAHULUAN


1.1    Latar Belakang

Angka kejadian penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) di Indonesia masih tinggi terutama pada balita, kasus kesakitan tiap tahun mencapai 260.000 balita. Pada akhir tahun 2000, ISPA mencapai enam kasus di antara 1000 bayi dan balita. Tahun 2003 kasus kesakitan balita akibat ISPA sebanyak lima dari 1000 balita, salah satu penyebab ISPA pada balita yaitu sanitasi rumah yang tidak sehat (Supraptini, 2006). Menurut data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2004, di Indonesia rumah sehat dibagi menjadi tiga kategori yaitu kategori baik, kategori sedang dan kategori kurang. Persentase rumah sehat di Indonesia kategori baik mencapai 35,3%, kategori sedang 39,8% dan kategori kurang 24,9%. Target rumah sehat di Indonesia sebesar 80%, dari kategori rumah sehat di atas tidak ada yang memenuhi target, sehingga rumah sehat di Indonesia belum tercapai (Depkes RI, 2000).

Berdasarkan profil Dinas Kesehatan Lampung Timur (2010), rumah penduduk di Lampung Timur dapat dibedakan berdasarkan sifat bahannya yaitu yang terbuat dari batu atau gedung permanen sebanyak 6146 rumah, terbuat dari setengah batu atau semi permanen sebanyak 2399 rumah, terbuat dari kayu atau papan sebanyak 989 rumah, dan terbuat dari bambu 3187 rumah. Berdasarkan data tersebut rumah penduduk Kabupaten Lampung Timur masih banyak yang berkategori rendah, hal ini dapat memicu timbulnya penyakit ISPA (Dinas Kesehatan dan Sosial Lampung Timur, 2010).

Berdasarkan profil Puskesmas Bandar Sribawono (2010), angka kejadian ISPA di Desa Bandar Agung tahun 2008 sebanyak 697 kasus yang di dominasi pada golongan umur satu sampai 59 bulan dan tahun 2009 sebanyak 345 kasus yang didominasi pada umur satu sampai empat tahun. Sedangkan tahun 2010 sebanyak 432 kasus ISPA dari bulan Januari sampai bulan November sebanyak 203 kasus (Desa Bandar Agung 2010; Puskesmas Bandar Sribhawono 2008-2010).

Menurut Notoatmodjo (2003), rumah yang luas ventilasinya tidak memenuhi syarat kesehatan akan mempengaruhi kesehatan penghuni rumah, hal ini disebabkan karena proses pertukaran aliran udara dari luar ke dalam rumah tidak lancar, sehingga bakteri penyebab penyakit ISPA yang ada di dalam rumah tidak dapat keluar. Ventilasi juga menyebabkan peningkatan kelembaban ruangan karena terjadinya proses penguapan cairan dari kulit, oleh karena itu kelembaban ruangan yang tinggi akan menjadi media yang baik untuk perkembangbiakan bakteri penyebab penyakit ISPA.

Sanitasi rumah dan lingkungan erat kaitannya dengan angka kejadian penyakit menular, terutama ISPA (Taylor, 2002). Beberapa hal yang dapat mempengaruhi kejadian penyakit ISPA pada balita adalah kondisi fisik rumah, kebersihan rumah, kepadatan penghuni dan pencemaran udara dalam rumah (Iswarini dan Wahyu, 2006). Selain itu juga faktor kepadatan penghuni, ventilasi, suhu dan pencahayaan (Ambarwati dan Dina, 2007).
Menurut Ranuh (1997), rumah yang jendelanya tidak memenuhi persyaratan menyebabkan pertukaran udara tidak dapat berlangsung dengan baik, akibatnya asap dapur dan asap rokok dapat terkumpul dalam rumah, bayi dan anak yang sering menghisap asap tersebut di dalam rumah lebih mudah terserang ISPA. Rumah yang lembab dan basah karena banyak air yang terserap di dinding tembok dan cahaya matahari pagi yang sulit masuk dalam rumah juga memudahkan anak-anak terserang ISPA. Berdasarkan hasil penelitian Yusup dan Sulistyorini (2005), diketahui bahwa ada hubungan yang bermakna antara ventilasi, pencahayaan dan kepadatan penghuni dengan kejadian ISPA pada balita.

Berdasarkan hasil survei pendahuluan di desa Bandar Agung pada tanggal 4-5 April 2011, bahwa terdapat 20 rumah yang mempunyai sanitasi kurang baik seperti berlantai tanah, rumah tidak mempunyai plafon, ventilasi yang tidak bisa dilalui sirkulasi udara dengan baik.  Sedangkan kasus ISPA tahun 2010 dari bulan Januari sampai bulan November masih banyak yaitu 432 kasus.

Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian
mengenai “apakah ada Hubungan Antara Sanitasi Fisik Rumah Dengan Kejadian Ispa Pada Balita Di Desa Bandar Agung Kecamatan Bandar Sribhawono Kabupaten Lampung Timur Tahun 2011”.




1.2    Identifikasi dan Perumusan Masalah

1.2.1    Identifikasi Masalah

                 1.    Tahun 2003 kasus kesakitan balita akibat ISPA sebanyak lima
dari  1000 balita, salah satu penyebab ISPA pada balita yaitu sanitasi rumah yang tidak sehat.
2.    Berdasarkan data Dinas Kesehatan dan Sosial tahun 2010 rumah
penduduk Kabupaten Lampung Timur masih banyak yang berkategori rendah, hal ini dapat memicu timbulnya penyakit ISPA.
3.    Tahun 2010 sebanyak 432 kasus ISPA dari bulan Januari sampai
bulan November sebanyak 203 kasus (Desa Bandar Agung 2010; Puskesmas Bandar Sribhawono 2008-2010)
4.    Hasil survei pendahuluan di desa Bandar Agung pada tanggal 4-
5 April 2011, bahwa terdapat 20 rumah yang mempunyai sanitasi kurang baik seperti berlantai tanah, rumah tidak mempunyai plafon, ventilasi yang tidak bisa dilalui sirkulasi udara dengan baik.

1.2.2    Perumusan Masalah

Apakah ada hubungan antara sanitasi fisik rumah dengan kejadian ISPA pada balita di Desa Bandar Agung, Kecamatan Bandar Sribhawono Kabupaten Lampung Timur Tahun 2011?


1.3    Tujuan Penelitian

1.3.1    Tujuan umum
Untuk mengetahui hubungan antara sanitasi fisik rumah dengan  kejadian ISPA pada balita di Desa Bandar Agung Kecamatan Bandar Sribhawono Kabupaten Lampung Timur tahun 2011.

1.3.2    Tujuan khusus
1.  Mengetahui hubungan antara ventilasi rumah dengan kejadian ISPA pada balita di Desa Bandar Agung, Kecamatan Bandar Sribhawono Kabupaten Lampung Timur?
2.   Mengetahui hubungan antara pencahayaan alami rumah dengan kejadian ISPA pada balita di Desa Bandar Agung, Kecamatan Bandar Sribhawono Kabupaten Lampung Timur?
3.    Mengetahui hubungan antara kelembaban rumah dengan
kejadian ISPA pada balita di Desa Bandar Agung, Kecamatan Bandar Sribhawono Kabupaten Lampung Timur?
4.    Mengetahui hubungan antara lantai rumah dengan kejadian
ISPA pada balita di di Desa Bandar Agung, Kecamatan Bandar Sribhawono Kabupaten Lampung Timur?
5.    Mengetahui hubungan antara dinding rumah dengan kejadian
ISPA pada balita di Desa Bandar Agung, Kecamatan Bandar Sribhawono Kabupaten Lampung Timur?


6.    Mengetahui hubungan antara plafon rumah dengan kejadian
ISPA pada  balita di Desa Bandar Agung, Kecamatan Bandar
Sribhawono Kabupaten Lampung Timur?

1.4    Manfaat Penelitian

1.4.1    Bagi masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat yang mempunyai balita yang menderita ISPA tentang pentingnya menjaga kondisi fisik rumah seperti ventilasi yang memenuhi standar, pencahayaan yang cukup, kelembaban yang cukup, lantai, dinding, dan atap rumah yang baik.

1.4.2    Bagi instansi terkait khususnya Puskesmas Bandar Sribhawono
Memberikan informasi agar dapat dijadikan pedoman dalam pengambilan kebijakan pada program kepedulian pada balita yang terkena ISPA.

1.4.3    Bagi Peneliti
         Untuk aplikasi dan mengembangkan ilmu yang diperoleh dari institusi dalam penerapanya di masyarakat.






BAB II
LANDASAN PUSTAKA

2.1    Pengertian ISPA

Menurut Khaidirmuhaj (2008), ISPA adalah penyakit infeksi saluran pernafasan atas yang meliputi infeksi mulai dari rongga hidung sampai dengan epiglottis dan laring seperti demam, batuk, pilek, infeksi telinga (otitis media), dan radang tenggorokan (faringitis).

Menurut Anonim (2008), ISPA adalah penyakit ringan yang akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu satu sampai dua minggu, tetapi penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi (gejala gawat) jika dibiarkan dan tidak segera ditangani.

2.2    Klasifikasi ISPA
Klasifikasi ISPA dapat dikelompokkan berdasarkan golongannya dan golongannya umur yaitu:
a.    Menurut Anonim (2008), ISPA berdasarkan golongannya:
1)    Pneumonia yaitu proses infeksi akut yang mengenai jaringan 
paruparu (alveoli).
2)    Bukan pneumonia meliputi batuk pilek biasa (common cold),
radang  tenggorokan (pharyngitis), tonsilitis dan infeksi telinga (otitis media).
b.    Menurut Khaidirmuhaj (2008), ISPA dapat dikelompokkan
berdasarkan  golongan umur yaitu:
1)    Untuk anak usia 2-59 bulan :
a)    Bukan pneumonia bila frekuensi pernafasan kurang dari 50
kali permenit untuk usia 2-11 bulan dan kurang dari 40 kali permenit untuk usia 12-59 bulan, serta tidak ada tarikan pada dinding dada.
b)    Pneumonia yaitu ditandai dengan nafas cepat (frekuensi
pernafasan sama atau lebih dari 50 kali permenit untuk usia 2-11 bulan dan frekuensi pernafasan sama atau lebih dari 40 kali permenit untuk usia 12-59 bulan), serta tidak ada tarikan pada dinding dada.
c)    Pneumonia berat yaitu adanya batuk dan nafas cepat (fast 
breathing) dan tarikan dinding pada bagian bawah ke arah dalam (servere chest indrawing).
2)    Untuk anak usia kurang dari dua bulan :
a)    Bukan pneumonia yaitu frekuensi pernafasan kurang dari 60
kali permenit dan tidak ada tarikan dinding dada.
b)    Pneumonia berat yaitu frekuensi pernafasan sama atau lebih
dari  60 kali permenit (fast breathing) atau adanya tarikan dinding dada tanpa nafas cepat.

2.3    Etiologi ISPA
ISPA dapat disebabkan oleh bakteri, virus, dan riketsia. Bakteri penyebab ISPA antara lain genus Streptococcus, Staphylococcus, Pneumococcus, Hemofilus, Bordetella, dan Corynebacterium. Virus penyebabnya antara lain golongan Mexovirus, Adenovirus, Coronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma, Herpesvirus, dan lain-lain (Depkes RI, 2000).

2.4    Cara penularan
ISPA dapat terjadi karena transmisi organisme melalui AC (air conditioner), droplet dan melalui tangan yang dapat menjadi jalan masuk bagi virus. Penularan faringitis terjadi melalui droplet, kuman menginfiltrasi lapisan epitel, jika epitel terkikis maka jaringan limfoid superficial bereaksi sehingga terjadi pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit polimorfonuklear. Pada sinusitis, saat terjadi ISPA melalui virus, hidung akan mengeluarkan ingus yang dapat menghasilkan superinfeksi bakteri, sehingga dapat menyebabkan bakteri-bakteri patogen masuk ke dalam rongga-rongga sinus (WHO, 2008).

2.5    Pertolongan pertama penderita ISPA
Menurut Benih (2008), untuk perawatan ISPA di rumah ada beberapa hal yang dapat dilakukan seorang ibu untuk mengatasi anaknya yang menderita ISPA yaitu:

2.5.1    Mengatasi panas (demam)
Untuk anak usia dua bulan sampai lima tahun, demam dapat diatasi dengan memberikan parasetamol atau dengan kompres, bayi di bawah dua bulan dengan demam harus segera dirujuk. Parasetamol diberikan sehari empat kali setiap enam jam untuk waktu dua hari. Cara pemberiannya, tablet dibagi sesuai dengan dosisnya, kemudian digerus dan diminumkan. Memberikan kompres, dengan menggunakan kain bersih dengan cara kain dicelupkan pada air (tidak perlu di tambah air es).
2.5.2    Mengatasi batuk
Dianjurkan untuk memberikan obat batuk yang aman misalnya ramuan tradisional yaitu jeruk nipis setengah sendok teh dicampur dengan kecap atau madu setengah sendok teh dan diberikan tiga kali sehari.

2.5.3    Pemberian makanan
Dianjurkan memberikan makanan yang cukup gizi, sedikit-sedikit tetapi berulang-ulang yaitu lebih sering dari biasanya, lebih-lebih jika terjadi muntah. Pemberian ASI pada bayi yang menyusu tetap diteruskan.

2.5.4    Pemberian minuman
Diusahakan memberikan cairan (air putih, air buah dan sebagainya) lebih banyak dari biasanya. Hal ini akan membantu mengencerkan dahak, selain itu kekurangan cairan akan menambah parah sakit yang diderita.

2.5.5    Lain-lain
Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut yang terlalu tebal dan rapat, lebih-lebih pada anak yang demam. Membersihkan hidung pada saat pilek akan berguna untuk mempercepat kesembuhan dan menghindari komplikasi yang lebih parah. Diusahakan lingkungan tempat tinggal yang sehat yaitu yang berventilasi cukup dan tidak berasap. Apabila selama perawatan di rumah keadaan anak memburuk maka dianjurkan untuk membawa ke dokter atau petugas kesehatan. Untuk penderita yang mendapat obat antibiotik, selain tindakan di atas diusahakan agar obat yang diperoleh tersebut diberikan dengan benar selama lima hari penuh dan setelah dua hari anak perlu dibawa kembali ke petugas kesehatan untuk pemeriksaan ulang.

2.6    Pencegahan ISPA
Menurut Benih (2008), pencegahan ISPA ada empat yaitu :
a.    Menjaga keadaan gizi agar tetap baik.
b.    Melakukan immunisasi.
c.    Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan.
d.    Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA.

2.7    Sanitasi Fisik Rumah
2.7.1    Pengertian rumah
Menurut Notoatmodjo (2003), rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. Menurut Dinkes (2005), secara umum rumah dapat dikatakan sehat apabila memenuhi kriteria yaitu:
a.    Memenuhi kebutuhan fisiologis meliputi pencahayaan,
penghawaan, ruang gerak yang cukup, dan terhindar dari kebisingan yang mengganggu.
b.    Memenuhi kebutuhan psikologis meliputi privacy yang cukup,
komunikasi yang sehat antar anggota keluarga dan penghuni rumah.
c.    Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit antar  
penghuni rumah meliputi penyediaan air bersih, pengelolaan tinja, limbah rumah tangga, bebas vektor penyakit dan tikus, kepadatan hunian yang tidak berlebihan, dan cukup sinar matahari pagi.
d.    Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik
yang timbul karena keadaan luar maupun dalam rumah, antara lain fisik rumah yang tidak mudah roboh, tidak mudah terbakar dan tidak cenderung membuat penghuninya jatuh tergelincir. Menurut Dinkes (2005), rumah sehat adalah proporsi rumah yang memenuhi criteria sehat minimum komponen rumah dan sarana sanitasi dari tiga komponen (rumah, sarana sanitasi dan perilaku) di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Minimum yang memenuhi kriteria sehat pada masingmasing parameter adalah sebagai berikut:

1)    Minimum dari kelompok komponen rumah adalah langit-
langit, dinding, lantai, jendela kamar tidur, jendela ruang keluarga, ventilasi, sarana pembuangan asap dapur, dan pencahayaan.

2)    Minimum dari kelompok sarana sanitasi adalah sarana air
bersih, jamban (sarana pembuangan kotoran), sarana pembuangan air limbah (SPAL), dan sarana pembuangan sampah.
3)    Perilaku Sanitasi rumah adalah usaha kesehatan masyarakat yang menitikberatkan pada pengawasan terhadap struktur fisik yang digunakan sebagai tempat berlindung yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia (Azwar, 1990). Sarana sanitasi tersebut antara lain ventilasi, suhu, kelembaban, kepadatan hunian, penerangan alami, konstruksi bangunan rumah, sarana pembuangan sampah, sarana pembuangan kotoran manusia, dan penyediaan air. Sanitasi rumah sangat erat kaitannya dengan angka kesakitan penyakit menular, terutama ISPA. Lingkungan perumahan sangat berpengaruh pada terjadinya dan tersebarnya ISPA (Azwar, 1990).

Rumah yang tidak sehat merupakan penyebab dari rendahnya taraf kesehatan jasmani dan rohani yang memudahkan terjangkitnya penyakitdan mengurangi daya kerja atau daya produktif seseorang. Rumah tidaksehat ini dapat menjadi reservoir penyakit bagi seluruh lingkungan, jikakondisi tidak sehat bukan hanya pada satu rumah tetapi pada kumpulanrumah (lingkungan pemukiman). Timbulnya permasalahan kesehatan di lingkungan pemukiman pada dasarnya disebabkan karena tingkatkemampuan ekonomi masyarakat yang rendah, karena rumah dibangun berdasarkan kemampuan keuangan penghuninya (Notoatmodjo, 2003).


2.7.2    Ventilasi
Menurut Sukar (1996), ventilasi adalah proses pergantian udara segar ke dalam dan mengeluarkan udara kotor dari suatu ruangan tertutup secara alamiah maupun buatan. Berdasarkan kejadianya ventilasi dibagi menjadi dua yaitu:

a.    Ventilasi alamiah
Ventilasi alamiah berguna untuk mengalirkan udara di dalam ruangan yang terjadi secara alamiah melalui jendela, pintu dan lubang angin. Selain itu ventilasi alamiah dapat juga menggerakan udara sebagai hasil sifat porous dinding ruangan, atap dan lantai.

b.    Ventilasi buatan
Ventilasi buatan dapat dilakukan dengan menggunakan alat mekanis maupun elektrik. Alat-alat tersebut diantaranya adalah kipas angin, exhauster dan AC.

Menurut Dinata (2007), syarat ventilasi yang baik adalah sebagai berikut:
1)    Luas lubang ventilasi tetap minimal lima persen dari luas lantai
ruangan, sedangkan luas lubang ventilasi insidentil (dapat dibuka dan ditutup) minimal lima persen dari luas lantai. Jumlah keduanya menjadi 10% dari luas lantai ruangan.
2)    Udara yang masuk harus bersih, tidak dicemari asap dari sampah atau
pabrik, knalpot kendaraan, debu, dan lain-lain.

3)    Aliran udara diusahakan cross ventilation dengan menempatkan
lubang ventilasi berhadapan antar dua dinding. Aliran udara ini jangan sampai terhalang oleh barang- barang besar, misalnya lemari, dinding, sekat, dan lain-lain.

Menurut Dinata (2007), secara umum penilaian ventilasi rumah dapat dilakukan dengan cara membandingkan antara luas ventilasi dan luas lantai rumah, dengan menggunakan rollmeter. Berdasarkan indikator penghawaan rumah, luas ventilasi yang memenuhi syarat kesehatan adalah lebih dari sama dengan 10% dari luas lantai rumah dan luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan adalah kurang dari 10% dari luas lantai rumah.

2.7.3    Pencahayaan Alami
Cahaya matahari sangat penting, karena dapat membunuh bakteribakteri patogen di dalam rumah, misalnya bakteri penyebab penyakit ISPA dan TBC. Oleh karena itu, rumah yang sehat harus mempunyai jalan masuk cahaya yang cukup. Jalan masuk cahaya (jendela) luasnya sekurang-kurangnya 15% sampai 20% dari luas lantai yang terdapat di dalam ruangan rumah (Azwar, 1990). Pencahayaan alami menurut Suryanto (2003), dianggap baik jika besarnya antara 60–120 lux dan buruk jika kurang dari 60 lux atau lebih dari 120 lux. Hal yang perlu diperhatikan dalam membuat jendela, perlu diusahakan agar sinar matahari dapat langsung masuk ke dalam ruangan, dan tidak terhalang oleh bangunan lain. Fungsi jendela di sini, di samping sebagai ventilasi juga sebagai jalan masuk cahaya. Lokasi penempatan jendela pun harus diperhatikan dan diusahakan agar sinar matahari lebih lama menyinari lantai (bukan menyinari dinding), maka sebaiknya jendela itu harus di tengahtengah tinggi dinding (tembok).

2.7.4    Kelembaban
kelembaban rumah yang tinggi dapat mempengaruhi penurunan daya tahan tubuh seseorang dan meningkatkan kerentanan tubuh terhadap penyakit terutama penyakit infeksi. Kelembaban juga dapat meningkatkan daya tahan hidup bakteri. Menurut Suryanto (2003), kelembaban dianggap baik jika memenuhi 40-70% dan buruk jika kurang dari 40% atau lebih dari 70%. Kelembaban berkaitan erat dengan ventilasi karena sirkulasi udara yang tidak lancar akan mempengaruhi suhu udara dalam rumah menjadi rendah sehingga kelembaban udaranya tinggi. Sebuah rumah yang memiliki kelembaban udara tinggi memungkinkan adanya tikus, kecoa dan jamur yang semuanya memiliki peran besar dalam patogenesis penyakit pernafasan (Krieger dan Higgins, 2002).

2.7.5    Lantai
Lantai rumah dapat mempengaruhi terjadinya penyakit ISPA karena lantai yang tidak memenuhi standar merupakan media yang baik untuk perkembangbiakan bakteri atau virus penyebab ISPA. Lantai yang baik adalah lantai yang dalam keadaan kering dan tidak lembab. Bahan lantai harus kedap air dan mudah dibersihkan, jadi paling tidak lantai perlu diplester dan akan lebih baik kalau dilapisi ubin atau keramik yang mudah dibersihkan (Ditjen PPM dan PL, 2002).

2.7.6    Dinding
Dinding rumah yang baik menggunakan tembok, tetapi dinding rumah di daerah tropis khususnya di pedesaan banyak yang berdinding papan, kayu dan bambu. Hal ini disebabkan masyarakat pedesaan perekonomiannya kurang. Rumah yang berdinding tidak rapat seperti papan, kayu dan bamboo dapat menyebabkan penyakit pernafasan yang berkelanjutan seperti ISPA, karena angin malam yang langsung masuk ke dalam rumah. Jenis dinding mempengaruhi terjadinya ISPA, karena dinding yang sulit dibersihkan akan menyebabkan penumpukan debu, sehingga akan dijadikan sebagai media yang baik bagi berkembangbiaknya kuman (Suryanto , 2003).

2.7.7    Plafon
            Rumah yang sehat hendaknya mempunyai plafon. Plafon yang memenuhi sarat kesehatan adalah yang terbuat dari bahan triplek. Plafon yang tidak memenuhi sarat adalah yang terbuat dari bahan geribik dan rumah yang tidak memiliki plafon. Tinggi minimum 2,4 meter, sebaiknya 3-4 meter (WHO) berfungsi agar matahari tidak dirasakan langsung.

2.8    Kerangka Teori
2.8.1    Kerangka teori pada dasarnya adalah ringkasan dari tinjauan pustaka yang digunakan untuk mengidentifikasi variable-variabel yang akan di teliti atau di ambil yang berkaitan dengan konteks ilmu pengetahuan yang digunakan untuk mengembangkan kerangka konsep penelitian (Notoatmodjo),2005). Berdasarkan uraian pada tinjauan pustaka, maka dapat di buat kerangka teori sebagai berikut:

Gambar 2.1 Kerangka Teori

 







                       : Variabel diteliti
                       : Variabel tidak diteliti






BAB III
KERANGKA KERJA
3.1    Kerangka Kerja

Berdasarkan kerangka teori di atas, maka kerangka konsep dari hubungan antara sanitasi fisik rumah dengan  kejadian ispa pada balita dapat dilihat pada kerangka dibawah ini:











Gambar 3.1  Kerangka Konsep

3.2    Variabel Penelitian


3.2.1    Variabel bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah sanitasi fisik rumah yang meliputi ventilasi, pencahayaan alami, kelembaban, lantai, dinding, dan plafon rumah.





3.2.2    Variabel terikat
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kejadian ISPA pada
balita.

3.3    Definisi Operasional Variabel
Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel Penelitian

No
Variabel
DO
Cara Ukur
Alat Ukur
Hasil
Skala
1
Ventilasi
Lubang angin untuk proses pergantian udara segar ke dalam dan mengeluar-kan udara kotor dari suatu ruangan tertutup secara alamiah maupun buatan.
observasi
Rollmeter
0= Tidak baik (<10% dari luas lantai)

1= Baik (≥10% dari luas lantai)

Ordinal
2
Pencahayaan alami
Penerangan rumah secara alami oleh sinar matahari untuk mengurangi ke-lembaban dan membunuh bakteri penyebab ISPA.
observasi
Luxmeter
0= Tidak baik (<60 lux atau >120 lux)

1= Baik
(60-120 lux)

Ordinal
3
Kelembaban
Kandungan uap air yang dapat di-pengaruhi oleh sirkulasi udara dalam rumah dan pencahayaan yang masuk dalam rumah.
observasi
Hygrometer
0= Tidak baik (<40% atau >70%)

1= Baik
(40-70%)

Ordinal
4
Lantai
Jenis bahan atau alas dasar penutup rumah bagian bawah, dinilai dari segi bahan dan kedap air.
observasi
Check list
0= Tidak baik : bila tidak kedap air (terbuat dari tanah)

1= Baik : bila kedap air
(terbuat dari kramik, semen dan ubin)

Ordinal
5
Dinding
Kualitas dinding dinilai dari segi kontruksi bangunan. Permanen jika dibuat dari bahan kayu yang dirapatkan atau tembok yang diplester dan dicat, non permanen jika dibuat ½ tembok atau papan/bambu yang tidak dirapatkan atau bahan yang kasar permukaannya.
observasi
Check list
0= Tidak baik : Bila semi permanen, bambu dan kayu atau papan

1= Baik : Bila Permanen

Ordinal
6
Plafon
Jenis bahan atau alas penutup rumah 
Bagian atas, dinilai dari ada tidaknya plafon.

observasi
Check list
0= Tidak baik : bila tidak ada plafond dan ada plafon tapi tidak bisa melindungi kotoran dari atap.

1= Baik : bila ada plafon dan bisa melindungi dari kotoran atap.

Ordinal
7
Kejadian ISPA
Merupakan infeksi saluran pernafasan atas pada balita usia nol sampai lima tahun yang di tandai dengan batuk pilek, demam, sakit telinga (otitis media), dan radang tenggorokan (faringitis)

Angket
Recall
0 =  Pernah
1 =  Tidak pernah
Ordinal

3.4       Hipotesis
1. Ada hubungan antara ventilasi rumah dengan kejadian ISPA pada balita di Desa Bandar Agung Kecamatan Bandar Sribhawono.
2. Ada hubungan antara pencahayaan alami rumah dengan kejadian ISPA
pada balita di Desa Bandar Agung Kecamatan Bandar Sribhawono.
3. Ada hubungan antara kelembaban rumah dengan kejadian ISPA pada balita di Desa Bandar Agung Kecamatan Bandar Sribhawono.
4. Ada hubungan antara lantai rumah dengan kejadian ISPA pada balita di
Desa Bandar Agung Kecamatan Bandar Sribhawono.
5. Ada hubungan antara dinding rumah dengan kejadian ISPA pada balita di Desa Bandar Agung Kecamatan Bandar Sribhawono.
6. Ada hubungan antara plafon rumah dengan kejadian ISPA pada balita di Desa Bandar Agung Kecamatan Bandar Sribhawono.
































BAB IV
METODELOGI PENELITIAN

4.1    Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional yaitu rancangan studi epidemiologi yang mempelajari hubungan penyakit dan paparan (faktor penelitian) dengan cara mengamati status paparan dan penyakit serentak pada individu-individu dari populasi tunggal, pada suatu saat atau periode (Murti, 1997).

4.2    Subjek Penelitian
Subjek pada penelitian ini adalah seluruh rumah yang di dalamnya terdapat balita berusia nol sampai lima tahun di Desa Bandar Agung Kecamatan Bandar Sribhawono.

4.3    Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian ini di Desa Bandar Agung Kecamatan Bandar Sribhawono dan dilaksanakan pada bulan Juni 2011.

4.4    Metode Penetapan Sampel
4.4.1   Populasi penelitian
Populasi penelitian ini adalah semua Kepala keluarga yang mempunyai balita berusia nol sampai lima tahun di Desa Bandar Agung, Kecamatan Bandar Sribhawono yang berjumlah 426 Kepala Keluarga.


4.4.2   Sampel pada penelitian
Besar sampel dapat dihitung dengan rumus Khotari (1990). Teknik pengambilan sampel yang akan digunakan adalah cluster random
sampling yaitu suatu pencuplikan di mana unit pencuplikan adalah kelompok (misalnya dukuh atau rumah tangga) bukan individu dan klaster yang dipilih secara random dari populasi (Murti, 2006). Karena pencuplikan sampel adalah cluster random sampling dengan jumlah populasi 62 KK dari 426 KK. Denga rumus sebagai berikut :
=
Jadi sampel yang diambil sebanyak 62 KK
Keterangan :
n : Besar sampel
N : Besar populasi
P : Perkiraan proporsi (prevalensi) variabel dependen pada populasi (95%)
q : 1-p

Z1-α/2 : Statistik Z (Z = 1,96 untuk α = 0,05)
d : Delta presisi absolut atau margin of error yang diinginkan di kedua sisi
proporsi (±5%).

4.4.3   Kriteria inklusi dan Eksklusi
a.  Kriteria inklusi atau kriteria subjek yang memenuhi syarat sebagai
sampel penelitian ini adalah :
1) Merupakan warga yang berdomisili (tinggal menetap) dan memiliki rumah di Desa Bandar Agung, Kecamatan Bandar Sribhawono.
2)  Mempunyai balita berusia nol sampai lima tahun dalam setiap KK.
3)   Bersedia menjadi responden.

b. Kriteria eksklusi atau kriteria subjek yang tidak memenuhi syarat sebagai sampel penelitian ini adalah :
1) Bukan merupakan warga yang berdomisili (tinggal menetap) dan tidak memiliki rumah di Desa Bandar Agung, Kecamatan Bandar Sribhawono.
2) Tidak mempunyai balita berusia nol sampai lima tahun dalam setiap KK
3)  Tidak bersedia menjadi responden.




4.5    Data

4.5.1    Data primer
Data primer diperoleh melalui wawancara secara langsung kepada responden dengan menggunakan pedoman wawancara semi terstruktur, observasi dan pengukuran dilakukan pada sanitasi fisik rumah meliputi Ventilasi, pencahayaan alami, kelembaban, lantai, dinding dan plafon.

4.5.2    Data sekunder
Data sekunder diperoleh dari instansi-instansi kesehatan seperti dinas kesehatan kabupaten atau kota, puskesmas serta kantor kepala desa yang meliputi data jumlah kasus, gambaran umum lokasi penelitian dan data demografi.

4.5.3    Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan pengukuran. Wawancara secara langsung ditujukan kepada ibu yang memiliki balita dengan menggunakan pedoman wawancara semi terstruktur, observasi dan pengukuran mengenai sanitasi fisik rumah dilakukan dengan menggunakan peralatan untuk mengukur luas ventilasi, pencahayaan alami, kelembaban, lantai, dinding, dan plafon rumah.

4.6    Jalannya Penelitian
Peneliti mengadakan survei awal ke Puskesmas Desa Bandar Sribhawono untuk meminta ijin mencari data Desa dengan jumlah kasus ISPA selama 3 tahun terakhir. Kemudian datang ke kantor Kelurahan Bandar Sribhawono untuk mencari data monografi, dan datang ke Posyandu pada setiap dusun untuk mencari data jumlah KK yang mempunyai balita. Penelitian dilakukan dengan mengadakan observasi langsung pada lantai, dinding dan plafon rumah, sedangkan pengukuran langsung pada ventilasi, pencahayaan alami dan kelembaban rumah.

4.7    Metode Analisis Data
4.7.1    Analisis univariat
Analisis univariat (analisis persentase) dilakukan untuk menggambarkan distribusi frekuensi masing-masing, baik variabel bebas (independen), variabel terikat (dependen) maupun deskripsi karakteristik responden.

4.7.2    Analisis bivariat
Analisis bivariat dilakukan dengan menggunakan uji chi square
dengan rumus :
Keterangan :
: chi square
O : frekuensi observasi
E : frekuensi harapan
Menurut Budiarto (2001), dasar pengambilan keputusan penerimaan hipotesis dengan tingkat kepercayaan 95% :
a. Jika nilai sig p > 0,05 maka hipotesis penelitian diterima.
b. Jika nilai sig p ≤ 0,05 maka hipotesis penelitian ditolak.

4.8    Pengolahan Data
Menurut Budiarto (2001), kegiatan dalam proses pengolahan data meliputi:
1.    Editing, yaitu memeriksa kelengkapan, kejelasan makna jawaban,  
konsistensi maupun kesalahan antar jawaban pada kuesioner.
2.    Coding, yaitu memberikan kode-kode untuk memudahkan proses
pengolahan data.
a.        Variabel Ventilasi
Alat ukur: Rollmeter
Kode 0    = Tidak baik (<10% dari luas lantai)
1      = Baik (≥10% dari luas lantai)

b.        Variabel Pencahayaan alami
Alat ukur: Luxmeter
Kode 0     = Tidak baik (<60 lux atau >120 lux)
1        = Baik (60-120 lux)

c.        Variabel Kelembaban
Alat ukur: Hygrometer
Kode 0                 = Tidak baik (<40% atau >70%)
1          = Baik (40-70%)

d.       Variabel Lantai
Alat ukur: Check list
Kode 0                 = Tidak baik : bila tidak kedap air (terbuat dari tanah)
1                 = Baik : bila kedap air (terbuat dari kramik, semen dan  
    ubin)



e.        Variabel Dinding
Alat ukur: Checlist
Kode: 0    = Tidak baik : Bila semi permanen, bambu dan kayu atau papan
1        = Baik : Bila Permanen

f.         Variabel Plafon
Alat ukur: Checklis
Kode: 0    = Tidak baik : bila tidak ada plafond dan ada plafon tapi
 tidak bisa melindungi kotoran dari atap.
1     = Baik : bila ada plafon dan bisa melindungi dari
 kotoran atap.

g.        Variabel Kejadian Ispa
Alat ukur: Recall
Kode: 0     =  Pernah
1         =  Tidak pernah

3.    Entry, memasukkan data untuk diolah menggunakan komputer.
4.    Tabulating, yaitu mengelompokkan data sesuai variabel yang akan
diteliti guna memudahkan analisis data.

4.9     Alat Penelitian
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1.        Kuisioner.
2.        Pedoman observasi.
3.        Formulir isian pengukuran.
4.        Rollmeter.
5.        Luxmeter.
6.        Hygrometer.
4.10   Bahan Penelitian

Bahan yang digunakan untuk penelitian ini adalah:
  1. Alat tulis ( computer )
  2. Buku-buku referensi sebagai bahan pertimbangan

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut